Harga minyak mentah di bursa New York kembali merosot sehingga terlempar dari US$77 per barel. Penurunan kali ini dipengaruhi laporan mengecewakan dari Bank Sentral, dan pemerintah AS mengenai perkembangan fundamental ekonomi, serta naiknya pasokan minyak mentah.
Menurut laman harian The Wall Street Journal, berdasarkan transaksi pada Rabu sore waktu New York (Kamis dini hari waktu Asia), harga minyak mentah untuk pasokan September turun 51 sen (0,8 persen) menjadi US$76,99 per barel. Di bursa London, harga minyak Brent melemah 7 sen menjadi US$76,06 per barel.
Para trader kecewa melihat laporan dari Departemen Perdagangan AS bahwa order untuk barang-barang yang tahan lama (durable goods) pada Juni lalu turun 1 persen. Order tipe barang ini sudah dua bulan berturut-turut mengalami penurunan.
Laporan dari Bank Sentral (The Fed) turut mengecewakan para investor di bursa minyak mentah. Dalam laporan yang terkenal dengan sebutan "Beige Book," The Fed mengungkapkan bahwa pertumbuhan ekonomi di sejumlah kota seperti Cleveland dan Kansas City tidak mengalami lonjakan yang berarti.
Bahkan pertumbuhan di Atlanta dan Chicago tengah melambat. Aktivitas ekonomi di tempat-tempat lain dikatagorikan "sedang-sedang saja."
Kinerja sektor manufaktur di sejumlah kota seperti New York, Cleveland, Kansas City, Chicago, Atlanta, dan Richmond diberitakan tengah melambat.
Tidak hanya itu, investor turut terpukul dengan laporan terbaru persediaan minyak mentah di AS. Menurut survei Departemen Energi, persediaan minyak mentah per pekan lalu naik 7,3 juta barel. Kenaikan ini lebih besar dari yang diperkirakan sejumlah survei.
Para trader kecewa melihat laporan dari Departemen Perdagangan AS bahwa order untuk barang-barang yang tahan lama (durable goods) pada Juni lalu turun 1 persen. Order tipe barang ini sudah dua bulan berturut-turut mengalami penurunan.
Laporan dari Bank Sentral (The Fed) turut mengecewakan para investor di bursa minyak mentah. Dalam laporan yang terkenal dengan sebutan "Beige Book," The Fed mengungkapkan bahwa pertumbuhan ekonomi di sejumlah kota seperti Cleveland dan Kansas City tidak mengalami lonjakan yang berarti.
Bahkan pertumbuhan di Atlanta dan Chicago tengah melambat. Aktivitas ekonomi di tempat-tempat lain dikatagorikan "sedang-sedang saja."
Kinerja sektor manufaktur di sejumlah kota seperti New York, Cleveland, Kansas City, Chicago, Atlanta, dan Richmond diberitakan tengah melambat.
Tidak hanya itu, investor turut terpukul dengan laporan terbaru persediaan minyak mentah di AS. Menurut survei Departemen Energi, persediaan minyak mentah per pekan lalu naik 7,3 juta barel. Kenaikan ini lebih besar dari yang diperkirakan sejumlah survei.
(seperti dikutip fbifm dari vivanews.com)





